Wednesday, January 28, 2015

Pengisian Harta Pada SPT Tahunan OP 2014


Dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Tahun Pajak 2014 khususnya bagi wajib pajak orang pribadi yang mengisi SPT Tahunan PPh OP 1770 dan 1770-S diwajibkan untuk merinci jenis harta yang dimiliki sesuai dengan kondisi yang sebenarnya pada akhir tahun.

Bagian HARTA ini digunakan untuk melaporkan harta usaha serta harta non usaha pada akhir Tahun Pajak yang dimiliki atau dikuasai Wajib Pajak sendiri dan anggota keluarganya.
 
Dalam hal:
1. Isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan hakim (HB);
2. Isteri melakukan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan (PH);
3. Isteri menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri (MT);
harta usaha serta harta non usaha pada akhir Tahun Pajak yang dimiliki atau dikuasai isteri, dilaporkan secara terpisah dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi isteri sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi tersendiri.

Daftar KODE HARTA :
 

Kas dan Setara Kas :
011 : uang tunai
012 : tabungan
013 : giro
014 : deposito
019 : setara kas lainnya
 

Piutang:
021 : piutang

022 : piutang afiliasi (piutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang PPh)
029 : piutang lainnya
 

Investasi:031 : saham yang dibeli untuk dijual kembali
032 : saham
033 : obligasi perusahaan
034 : obligasi pemerintah Indonesia (Obligasi Ritel Indonesia atau ORI, surat berharga syariah negara, dll)
035 : surat utang lainnya
036 : reksadana
037 : Instrumen derivatif (right, warran, kontrak berjangka, opsi, dll)
038 : penyertaan modal dalam perusahaan lain yang tidak atas saham meliputi penyertaan modal pada CV, Firma, dan sejenisnya
039 : Investasi lainnya
 
Alat Transportasi:
041 : sepeda
042 : sepeda motor
043 : mobil
049 : alat transportasi lainnya
 

Harta Bergerak Lainnya:
051 : logam mulia (emas batangan, emas perhiasan, platina batangan, platina perhiasan, logam mulia lainnya)
052 : batu mulia (intan, berlian, batu mulia lainnya)
053 : barang-barang seni dan antik (barang-barang seni, barang-barang antik)
054 : kapal pesiar, pesawat terbang, helikopter, jetski, peralatan olahraga khusus
055 : peralatan elektronik, furnitur
059 : harta bergerak lainnya
Harta Tidak Bergerak
061 : tanah dan/atau bangunan untuk tempat tinggal.
062 : tanah dan/atau bangunan untuk usaha (toko, pabrik, gudang, dan sejenisnya)
063 : tanah atau lahan untuk usaha (lahan pertanian, perkebunan, perikanan darat, dan sejenisnya)
069 : harta tidak gerak lainnya
 

NAMA HARTA – Kolom (3)
Kolom ini diisi dengan nama harta yang dimiliki atau dikuasai pada akhir Tahun Pajak, misalnya:

  1. Tanah (cantumkan lokasi dan luas tanah);
  2. Bangunan (cantumkan lokasi dan luas bangunan);
  3. Kendaraan bermotor, mobil, sepeda motor (cantumkan merek dan tahun pembuatannya); 
  4. Kapal pesiar, pesawat terbang, helikopter, jetski, peralatan olah raga khusus, dan sejenisnya (cantumkan merek/jenis dan tahun pembuatannya);
  5. Uang Tunai Rupiah, Valuta Asing sepadan US Dollar;
  6. Simpanan termasuk tabungan dan deposito di Bank Dalam dan Luar Negeri (cantumkan nama bank untuk setiap rekening simpanan),
  7. Piutang (cantumkan identitas pihak yang menerima);
  8. Efek-efek (saham, obligasi, commercial paper, dan sebagainya) (cantumkan nama penerbit);
  9. Keanggotaan perkumpulan eksklusif (keanggotaan golf, time sharing dan sejenisnya) (cantumkan nama perkumpulan);
  10. Penyertaan modal lainnya dalam perusahaan lain yang tidak atas saham (CV, Firma) (cantumkan nama tempat penyertaan modal);
  11. Harta berharga lainnya, misalnya batu permata, logam mulia, dan lukisan.
TAHUN PEROLEHAN 
Kolom ini diisi tahun perolehan dari masing-masing harta yang dimiliki.
 

HARGA PEROLEHAN 
Kolom ini diisi harga perolehan dari masing-masing harta yang dimiliki sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
(Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang PPh)
 

KETERANGAN
Kolom ini diisi dengan keterangan-keterangan lain yang dianggap perlu. Misalnya untuk rumah dan tanah diberi keterangan Nomor Objek Pajak (NOP) sesuai yang tertera dalam SPPT PBB atau untuk kendaraan bermotor diisi Nomor Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKP).

Sunday, September 14, 2014

Kursus Brevet Pajak di Medan



PERPAJAKAN merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan oleh siapapun yang telah diwajibkan    membayarnya, baik Orang Pribadi maupun Badan Usaha.

Wajib Pajak diwajibkan untuk dapat menghitung, membayar, melapor dan mempertanggungjawabkan besarnya pajak yang terutang.

Oleh sebab itu, penting bagi Wajib Pajak untuk selalu meng UPDATE pengetahuan dan pembaharuan   peraturan perpajakan untuk menghindari sanksi perpajakan.

KEGUNAAN  :

  • Bagi Para Pencari Kerja, ilmu perpajakan akan  sangat menjadi MODAL PLUS dalam persaingan proses melamar kerja, apalagi bila memiliki SERTIFIKAT sebagai bukti bahwa ANDA telah lulus dari pelatihan perpajakan.
  • Bagi Para Manager, pelatihan ini juga sebagai tempat untuk meningkatkan pengetahuan perpajakan sehingga dapat mengevaluasi      pekerjaan bawahan dengan lebih baik lagi.
  • Bagi Mahasiswa, pelatihan perpajakan sebagai sarana untuk lebih memperdalam ilmu perpajakan yang telah diterima di bangku kuliah.
  • Bagi Masyarakat Umum, pelatihan perpajakan berguna sebagai tambahan informasi tentang hak dan kewajiban dalam bidang perpajakan.
  • Bagi Calon Konsultan Pajak, pelatihan ini berguna untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak (USKP) yang akan diselenggarakan oleh IKPI.

Tax Centre Univ. Sumatera Utara secara legalitas telah mendapatkan izin dari Rektor Univ. Sumatera Utara untuk menadakan pelatihan Pajak setara Brevet A/B.

Tax Centre USU menyediakan Program pelatihan yang berkualitas dan intensif dengan metode pengajaran yang berbeda dengan pelatihan pajak yang lain. Dengan suasana belajar yang lebih focus, nyaman, dan bertumpu pada kedekatan pengajar dengan peserta diharapkan peserta akan lebih memahami materi dengan cepat.

KEUNGGULAN BTC :

  1. KURIKULUM, kami satu-satunya pelatihan setara    Brevet A/B yang mempunyai kurikulum yang terstruktur dan dinamis, sesuai dengan peraturan perpajakan yang TERBARU dan telah disesuaikan dengan Standar USKP dengan porsi 40 : 60 (40 persen teori dan 60 persen praktik) sehingga peserta dapat berlatih dengan prinsip Learning By Doing
  2. KELAS KECIL, setiap kelas maksimal 20 orang, Lebih Private dan Efektif dalam proses belajar.
  3. Modul yang disesuaikan dengan kurikulim Tax Centre dan USKP, disusun dengan bahasa yang sederhana (bukan bahasa peraturan/umndang-undang) sehingga dapat lebih cepat dimengerti oleh peserta.
  4. Ruang Berlatih didesain untuk lebih meningkatkan   motivasi dan semangat berlatih dan dilengkapi music klasik yang memberikan stimulus kepada otak peserta untuk lebih berkonsentrasi dalam berlatih.
  5. Tenaga Pelatih yang profesioanal dan  berpengalaman dari Direktorat Jenderal Pajak dan Praktisi Perpajakan.
  6. Free Bulletin Update Peraturan Perpajakan, SELAMANYA untuk alumni.
  7. Free Konsultasi Karir, kami bekerjasama dengan Quantum Smart Education (QSE), kan memberikan ANDA konsultasi gratis untuk pengembangan potensi diri, sehingga karir ANDA lebih terarah dan terukur.
  8. Program Pendukung Belajar (Management Stress, Management Waktu, dan Konsentrasi (supported by QSE)
  9. Free diskusi dan Konsultasi kasus perpajakan, di lokasi belajar selama jam belajar dengan mentor.

PROGRAM UNGGULAN

Kelas Brevet A/B Reguler :
Senin s/d Jumat     (50 kali tatap muka)
Kelas Malam          : 18.00 s/d 20.30
Biaya : Rp 2.000.000/orang
(Setiap tatap muka diselingi istirahat 20 menit untuk snack)

Kelas E-SPT :
Senin s/d Jumat (5 kali tatap muka)
Wajib membawa Laptop
Biaya : Rp 750.000/orang
(Setiap tatap muka diselingi istirahat 20 menit untuk snack)

 Pengajar :

1. Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN - Jakarta)
1. Tenaga Ahli dari Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
2. Praktisi dari Kantor Konsultan Pajak yang bersertifikat  yang terdaftar di Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)
3. Alumni Lembaga Pusat Mengembangan Manajemen (LPPM) Jakarta

Hubungi kami :
TAX CENTRE UNIV. SUMATERA UTARA
Kampus Univ. Sumatera Utara 
Gedung Lembaga Penelitian USU, Lantai II
Jl. Perpustakaan , Medan, Sumatera Utara











Link : lokasi tax centre usu


Contact Person :

Indra Efendi Rangkuti / 0812.6570.8340
Firman Logos Tarigan / 0852.7099.5678
Fitri Aprilia / 0852.7050.2650
 

Brosur dan Form. Pendaftaran
em@il: taxcentre_usu@yahoo.co.id
Our website : www.taxcentreusu.org


Saturday, September 13, 2014

Sekilas Tentang PPN Atas Penjualan Aktiva (Pasal 16D)


Salah seorang relasi bertanya, apakah barang-barang bekas yang merupakan aset perusahaan  yang sudah tidak dipakai saat dijual harus dikenakan PPN (Pasal 16D)? Ringkasnya saya jawab “amannya” tetap terutang PPN. Lalu apa memang demikian aturannya? Bagaimana jika barang-barang tersebut sebelumnya memang tidak terutang PPN karena beli dari Non PKP atau bahkan sebelum UU PPN diberlakukan? dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain seputar penjualan aktiva yang tujuan semula bukan untuk diperjual belikan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita menyimak kembali dengan tulisan yang akan diuraikan berikut dengan judul “Sekilas Tentang PPN Atas Penjualan Aktiva (Dikenal dengan istilah Pasal 16D)”. Untuk memudahkan pemahaman pembaca,  penulis membedakan Pasal 16 D sesuai ketentuan yaitu :
  • Masa 1 Januari 1995 s.d 1 April 2010, Sesuai dengan UU No. 11 th 1994 yang berlaku mulai 1 Januari 1995
  • Setelah 1 April 2010, Sesuai dengan UU PPN No. 42 th 2009
Masa 1 Januari 1995 s.d 1 April 2010
Pasal 16D UU No. 11 tahun 1994 berbunyi : “Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya dapat dikreditkan.”
Adapun dalam penjelasan dikatakan : “Penyerahan mesin, bangunan, peralatan, perabotan atau aktiva lain yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, dikenakan pajak sepanjang memenuhi persyaratan, yaitu bahwa Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya, sesuai ketentuan Undang-undang ini, dapat dikreditkan.
Dengan demikian, penyerahan aktiva tersebut tidak dikenakan pajak apabila Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada waktu perolehannya tidak dapat dikreditkan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini, kecuali jika tidak dapat dikreditkannya Pajak Pertambahan Nilai tersebut karena bukti pengkreditannya tidak memenuhi persyaratan administratif, misalnya Faktur Pajaknya tidak diisi lengkap sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5).
Berdasarkan bunyi pasal 16 D UU No. 11 tahun 1994 beserta penjelasannya dapat disarikan sebagai berikut :
  1. Penyerahan Aktiva harus  harus berupa Barang Kena Pajak (BKP)
  2. Yang melakukan penjualan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP)
  3. Pada waktu pembelian PPN telah dibayar, artinya jika pada saat pembelian tidak membayar PPN misalnya karena pembelian dari non PKP, pembeliannya sebelum UU PPN 1984 diberlakukan maka atas penjualan tidak terutang PPN.
  4. Semua penjualan aktiva yang pajak masukannya “dapat” dikreditkan dikenakan PPN, Pengertian “dapat” bukan berarti secara nyata telah dikreditkan, walaupun tidak dikreditkan tapi kalau pajak masukannya “Boleh” dikreditkan maka sudah termasuk dalam pengertian “dapat” dikreditkan
  5. Semua penjualan aktiva yang pajak masukannya tidak dapat dikreditkan tidak dikenakan PPN kecuali penjualan aktiva yang pajak masukkannya tidak boleh dikreditkan karena : Bukti pengkreditannya tidak memenuhi persyaratan administratif, misalnya Faktur Pajaknya tidak diisi lengkap sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5).
Setelah 1 April 2010
Pengenaan PPN terkait aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan diperluas melalui  UU PPN No 42 tahun 2009. Pasal 16D UU PPN No 42 tahun 2009 berbunyi : “Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, kecuali atas penyerahan aktiva yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c.”
Adapun dalam penjelasan dikatakan : “Penyerahan Barang Kena Pajak, antara lain, berupa mesin, bangunan, peralatan, perabotan atau Barang Kena Pajak lain yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak dikenai pajak. Namun, Pajak Pertambahan Nilai tidak dikenakan atas pengalihan Barang Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha dan pengalihan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yaitu kendaran bermotor berupa sedan dan station wagon, yang menurut ketentuan Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c Pajak Masukan atas perolehan aktiva tersebut tidak dapat dikreditkan.”
Berdasarkan bunyi pasal 16D UU PPN No 42 tahun 2009 beserta penjelasannya dapat disarikan sebagai berikut :
  1. Penyerahan Aktiva harus  harus berupa Barang Kena Pajak (BKP)
  2. Yang melakukan penjualan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP)
  3. Pada waktu pembelian PPN telah dibayar, artinya jika pada saat pembelian tidak membayar PPN misalnya karena pembelian dari non PKP, pembeliannya sebelum UU PPN 1984 diberlakukan maka atas penjualan tidak terutang PPN.
  4. Semua penjualan aktiva yang ada pajak masukannya dikenakan PPN kecuali penjualan aktiva yang pajak masukkannya tidak boleh dikreditkan karena : a). Berupa sedan dan station wagon (yg keduanya bukan untuk barang dagangan/ disewakan), b). Aktiva yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kegiatan usaha.
Beberapa Pengertian Terkait Penyerahan Aktiva
  • Pajak Masukan, dalam pasal 1 (24) UU PPN No 42 2009 adalah “Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa Kena Pajak dan/atau pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan/atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan/atau impor Barang Kena Pajak”.
  • Pengkreditan Pajak Masukan  Pasal 9 ayat (8) huruf b dan c UU PPN No 42 2009 berbunyi :“Pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat diberlakukan bagi pengeluaran untuk: b). perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha; c). perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan
Contoh Penjualan Aktiva
1. Penjualan Aktiva yang terutang PPN
Contoh yang menurut penulis kategori penjualan aktiva yang terutang PPN adalah sebagai berikut : PT. Nusacode menjual aset yang sudah tidak efektif lagi berupa mobil bekas dan alat-alat elektronik bekas untuk diganti dengan keluaran terbaru, dengan nilai total penjualan Rp. 240.000.000,-  Maka atas penjualan aktiva ini terutang PPN dengan alasan sebagai berikut : 1). Yang diserahkan adalah Barang Kena Pajak, 2). Yang melakukan penjualan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP), 3). Pada waktu pembelian PPN telah dibayar.
2. Penjualan Aktiva yang tidak terutang PPN
Contoh yang menurut penulis bukan kategori penjualan aktiva yang tidak terutang PPN adalah sebagai berikut : PT. Nusahati  pada tahun 22 Maret 2013 melakukan Penjualan tanah dan atau bangunan yang dibeli tahun 1978 dari orang pribadi  yang dilengkapi dengan dokumen terkait berupa sertifikat tanah, tidak terutang PPN dengan alasan sebagai berikut 1). Aktiva tersebut diperoleh tanpa adanya PPN Masukan yang dapat dikreditkan. 2).  Aktiva diperoleh tahun 1975 dimana pada saat tersebut belum berlaku UU PPN.
Kesimpulan
Bagi perusahaan yang berbentuk badan hukum tentang penjualan aktiva akan terlihat jelas dalam mutasi aset pada daftar aktiva tetap. Hal ini akan menjadi perhatian bagi seorang Account Representative atau Pejabat Fungsional Pemeriksa. Agar hal ini tidak menjadi masalah maka wajib pajak harus dapat menjelaskan apabila penjualan aset tersebut tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada saat dijual seperti dapat membuktikan bahwa aset yang dijual  pada saat pembelian tidak dipungut PPN karena pembelian dari non PKP atau sebelum UU PPN diberlakukan. Walaupun sebenarnya saat mengeksekusi fiskus disamping yang telah diuraikan di atas juga harus memperhatikan syarat komulatif seperti : 1) Aset yang dijual bukan barang dagangan (tujuan semula bukan untuk diperjualbelikan), 2). Pajak Masukan sudah dibayar, 3). Pajak Masukannya dapat dikreditkan.
- See more at: http://www.nusahati.com/2013/06/sekilas-tentang-ppn-atas-penjualan-aktiva-pasal-16d/#sthash.rHmJBTWc.dpuf